+6281 944 80 5000 [email protected]

Kalau Anda pernah ragu berapa lama Anda harus presentasi, Anda tidak sendirian.

Dulu saya sering merasakannya.

Takut terlalu lama dan berujung presentasinya membosankan.

Terlalu cepat juga takut kalau materinya tidak tersampaikan dengan baik.

Apalagi saya kalau ngomong terburu-buru sering kesleo lidah.

Jadi mau presentasi sudah takut dulu.

Mungkin ketakutan ini hampir sama rasanya dengan seseorang yang mau melamar tapi takut ditolak.

 

Sebelum melangkah ke pembahasan utama, mari kita sedikit mengingat sebuah teori.

Daya tahan konsentrasi seseorang, bergantung dengan jumlah usianya.

Apabila usia 10 tahun, maka konsentrasi optimalnya di angka 10 menit.

Tapi ini berhenti di usia 15 tahun keatas.

Pada tahun 15 dan seterusnya, konsentrasi optimal tetap di 15 menit.

Itupun hanya ada pada orang yang terbiasa untuk belajar.

Yang menjadi patokan saya di angka 13 menit.

Memang ini bukan angka yang paten.

Banyak faktor yang menjadi pengaruh.

Lingkungan terutama.

 

Lalu, bagaimana nasib presentasi kita?

Kadang kita juga butuh waktu lebih lama kan untuk presentasi.

15 menit, 30 menit atau bahkan jam..

 

CUT!

Saya pernah belajar kepada salah seorang trainer hebat yang juga penulis buku tentang bagaimana cara membuat suasana ‘hidup’ debuah training jadi lebih lama.

Beliau adalah bapak Akh. Muwafik Saleh.

Dalam sebuah training, semangat audience berada dalam kondisi puncak hanya ada dalam 2 titik.

Awal dan akhir.

 

 

Awal ketika baru di burn dengan pembukaan yang WOW.

Dan akhir ketika hampir selesai.

 

Lalu pas tengah training bagaimana?

Ini sedikit rahasianya….

Kalau memang audience berada di puncak semangat hanya pada awal dan akhir, yang harus kita lakukan adalah memotong sesi yang panjang menjadi beberapa sesi pendek.

 

presentasi

 

Ini dilakukan untuk mendekatkan sesi awal dan akhir.

 

 

Maksud awal dan akhir yang sering ini bukan berarti presentasi dibuka tutup berulang-ulang.

Tapi ada 1 hal yang kita lakukan untuk menggetarkan gelombang otak para audience.

Inilah yang kita kenal dengan ice breaking.

 

 

Ice breaking bisa diartikan dengan memecah kebekuan.

Ini bisa dilakukan dengan banyak hal seperti

  • Senam
  • Bernyanyi
  • Kuis
  • Game
  • Atau hiburan lainnya

Ini tergantung Anda,

Kalau saya pribadi menggunakan sisi saya sebagai mentalist untuk ice breaking.

Soalnya kalau ngelucu selalu garing 😀

 

 

Dengan begitu sebelum semangat audience turun, sudah Anda tarik lagi ke atas.

Presentasinya lebih hidup dari awal hingga akhir

 

 

KICK

“Mas Radit, bagaimana kalau presentasi saya cuma beberapa menit?”

Ya kalau beberapa menit saja, jangan dipotong-potong

Nanti nggak jadi presentasi, malah full ice breaking semua 😀

 

Teknik ini saya pelajari ketika saya mendalami showmanship untuk berlatih menyajikan show mentalism.

 

Secara alami, semangat seseorang akan turun dari waktu ke waktu apabila melihat hal yang monoton.

Sekali lagi, MONOTON

Grafiknya seperti ini

 

 

Bahaya kan?

Dengan memahami ini, Anda bisa menerapkan teknik KICK

Apa itu?

Bukan Anda harus menendang audience loh -_-

Tapi ada tendangan psikis yang Ada berikan seperti

  • Jokes
  • Pertanyaan
  • Teriakan
  • Atau keajaiban (ini versi lain :D)

Sama, disini juga tidak ada aturan baku.

Tendangan psikis juga bisa Anda berikan dengan memainkan intonasi dan volume suara Anda.

Biar tidak ada audience yang menunduk lalu hilang kesadaran.

Cara lain?

Yap, komunikasi 2 arah seperti yang saya sebutkan juga berpengaruh.

Saling tanya atau teguran (yang dianggap tidak penting)

Itu sebenarnya penting sekali.

Membangun keakraban, menciptakan kehangatan.

Dengan ditendang, semangat audience bisa naik.

Kalau turun lagi?

Ya tendang lagi!

Gitu aja kok repot 😀

 

 

Okay?

Dan yang tidak kalah penting lagi..

Jangan lupa sebelum menutup presentasi, TENDANG DULU 😀

Biar semangatnya naik, closingnya menarik

Pas posisi semangat di puncak, akhiri.

Rasanya pasti kayak “ditinggal waktu lagi sayang-sayangnya”

Presentasi Anda lebih ngangenin..

 

%d bloggers like this: